Pascaerupsi Gunung Merapi masyarakat korban erupsi harus segera bangkit dari keterpurukan dan berjuang demi kesejahteraan hidup sehingga dapat segera menggerakkan roda perekonomian yang telah lama terhenti.

 

 

 

Bencana demi bencana silih berganti mendera bangsa kita tercinta, mulai dari banjir bandang tahunan yang kerap melanda beberapa daerah di Indonesia hingga pergolakan politik yang tak kunjung usai.

 

Bencana pun tak luput menimpa kota pelajar, Yogyakarta dengan bencana letusan Gunung Merapi yang dahsyat hingga ditetapkan sebagai bencana nasional. Mendekati pertengahan bulan Oktober Gunung Merapi mulai menunjukkan peningkatan aktivitas yang cukup signifikan hingga pada Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 Waktu Indonesia Barat. Gunung Merapi pun meletus.

 

Status Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal manjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010. Pada 21 Oktober 2010 status Merapi menjadi Siaga, dan kemudian Awas, terhitung sejak 25 Oktober 2010.

 

Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) merilis data terakhir mengenai bencana alam tersebut. Berikut data BNPB: hingga Rabu (27/10) pukul 14.30 WIB korban akibat letusan gunung api Merapi tercatat sebanyak 25 orang meninggal dunia, luka-luka 28 orang dirawat di RSU Muntilan dan RSUD Klaten. Sedangkan jumlah pengungsi sebanyak 41.649 jiwa, dengan rincian Kabupaten Sleman 19.050 jiwa, Kabupaten Magelang 10.610 jiwa, Boyolali 3.621 jiwa, dan Klaten 8.368 jiwa.

 

Begitu banyak Para pengungsi korban letusan Gunung Merapi yang mendiami posko-posko pengungsi yang telah disediakan oleh para relawan. Kini dengan hidup jauh dari rumah, mereka membutuhkan harapan agar bisa menghadapi keadaannya saat ini. Semua pihak seharusnya bisa membangkitkan harapan mereka dengan memberikan dorongan serta hiburan.

 

Bagi manusia, hidup bukan sekadar persoalan makan dan minum. Oleh karena itu, selain menjamin terpenuhinya kebutuhan makan dan minum, pengungsi harus didorong untuk memiliki harapan akan masa depan mereka pascapengungsian.

 

Peran Berbagai Pihak Mengatasi Krisis Pascaerupsi
Semua pihak bisa berperan dalam menciptakan harapan. Media, misalnya, sesungguhnya punya tanggung jawab untuk membangkitkan harapan pengungsi. Dalam suatu bencana, media mestinya bisa memberikan informasi yang menenangkan warga. Media seharusnya tidak semakin menambah kecemasan warga dengan informasi yang diberikan.

 

Setelah harapan dan semangat hidup yang kuat sudah terpatri dalam benak masing-masing pengungsi kini tinggal peran para pemimpin bangsa beserta kabinetnya memikirkan opsi terbaik untuk masa depan pengungsi pascaerupsi Gunung Merapi.

 

Menurut Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi dan Lingkungan Emil Salim mengatakan letusan Gunung Merapi harus bisa dimanfaatkan di masa mendatang demi kesejahteraan rakyat. “Ke depannya, muntahan perut bumi karena letusan Gunung Merapi harus bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi dan Lingkungan Emil Salim dalam acara jumpa pers “International Youth Forum on Climate Change” yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Jakarta, Rabu.

Emil menjelaskan, banyak material isi perut bumi yang keluar saat terjadinya letusan gunung. “Material itu bisa berbentuk pasir, silika, lava, kristal dan lain sebagainya yang dimuntahkan dari dalam perut bumi dalam jumlah besar,” katanya.

Hal ini tentu saja peluang emas bagi para pengungsi untuk memanfaatkan aset berharga bagi kelangsungan hidup mereka. Tentu saja diperlukan peran dari berbagai pihak yang terkait untuk bahu-membahu mewujudkan ini semua

Setelah koordinasi dan kerjasama pihak pemerintah dengan pihak terkait lainnya dirasa cukup matang, maka segeralah dilakukan pelatihan keterampilan dan sosialisasi cara mengelola dan mengolah limbah material letusan Gunung Merapi yang melimpah guna meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup para pengungsi.

Upaya pemerintah pun tidak sebatas hanya memberikan bantuan sosial berupa pakaian, sembako, obat-obatan dan makanan, tetapi juga member bantuan moril serta materiil yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi.

Untuk bantuan moril, dengan menerjunkan para psikolog, motivator, artis bahkan pemimpin negara kita pun langsung turun tangan menangani secara langsung korban letusan Gunung Merapi. Tentu saja hal tersebut sontak membuat hati para pengungsi riang gembira serta semakin menambah motivasi para pengungsi supaya tidak hanya berpangku tangan menunggu uluran tangan dari para donatur tetapi bertindak secara cerdas dan revolusioner guna mencptakan kehidupan masa depan yang lebih baik.

Sedangkan untuk bantuan materiil upaya pemerintah adalah mengganti hewan ternak para pengungsi dengan harga tinggi, dibuatkan hunian baru sementara serta pengadaaan kredit khusus bagi para pengungsi korban merapi.

Walaupun para pengungsi seperti ‘dimanjakan’ oleh kemudahan-kemudahan yang dilakukan oleh pemerintah tetapi lantas tidak membuat para pengungsi malas berusaha dan bekerja keras guna mendapatkan kesejahteraan dan kelayakan sebagaimana mereka idam-idamkan bersama.

Material-material letusan Gunung Merapi yang dimuntahkan dalam skala besar apabila tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin hanya akan membuat kerugian dimana-mana. Material itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat. Contohnya kristal bisa dimanfaatkan untuk membuat perhiasan dan pajangan rumah tangga, silika bisa dimanfaatkan untuk membuat kaca dan material lainnya bisa dikembangkan untuk menggerakkan ekonomi.

Pasir yang terkandung dalam material vulkanik yang dimuntahkan gunung api, termasuk Gunung Merapi, merupakan pasir kualitas terbaik untuk bahan bangunan. Adapun debu gunung berapi sangat baik digunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah.
Dosen Vulkanologi yang juga Kepala Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, mengatakan bahwa fungsi pasir gunung api sebenarnya sama dengan pasir biasa. Namun, kandungan silika (SiO) yang tinggi membuat kualitasnya menjadi sangat baik.
Pasir gunung api baik digunakan untuk penjernih air. Pola silika yang berujung runcing membuat kemampuan pasir menyerap partikel tidak diinginkan jauh lebih baik ketimbang pasir biasa. Meski demikian, penggunaan pasir gunung api sebagai penjernih air tetap membutuhkan bahan lain, seperti zeolit dan arang kayu.
“Dalam penjernih air, fungsi pasir gunung api hanya menggantikan fungsi pasir biasa,” katanya.

Pasir gunung api juga sangat baik digunakan untuk bahan beton. Ujung silika yang runcing membentuk partikel yang memiliki sudut. Pola partikel bersudut itulah yang membuat ikatan pasir gunung api dengan semen menjadi lebih kuat.
Pasir biasa memiliki ujung bulat sehingga kekuatan ikatannya dengan bahan pembuat beton lainnya lebih lemah.
Dosen Panas Bumi dan Gunung Api Institut Teknologi Bandung, Asnawir Nasution, mengatakan, selain silika, pasir gunung api juga memiliki kandungan besi (FeO). Kandungan besi pasir gunung api sangat baik karena belum mengalami pelapukan sehingga baik untuk campuran bahan bangunan.
“Pasir gunung api juga memiliki kandungan lempung yang sangat sedikit. Selain membuat beton semakin kuat, sedikitnya lempung juga akan meningkatkan daya tahan beton dan membuat tingkat kekeroposan beton lebih rendah,” ucapnya.
Di Jawa Tengah, pasir Gunung Merapi menjadi incaran, sedangkan di Jawa Barat pasir Gunung Galunggung menjadi primadona. Menurut Asnawir, harga pasir Gunung Galunggung bisa mencapai Rp 900.000 per truk, sedangkan pasir biasa yang didatangkan dari Garut hanya dihargai Rp 500.000 per truk.
Unsur hara


Eko mengatakan, material vulkanik yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan hanya yang berupa pasir atau kerikil. Material berukuran besar itu hanya terdapat di sekitar letusan gunung api. Jika mencermati letusan Gunung Merapi saat ini, pasir yang dapat dipergunakan diperkirakan hanya yang berada dalam radius 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Material debu hanya dapat dimanfaatkan untuk memperkaya unsur hara dalam tanah. Kandungan unsur hara material gunung api dapat digunakan untuk menetralisasi “kecapaian” tanah yang selama ini banyak diberi pupuk anorganik.
Menurut Asnawir, fungsi debu gunung api sebagai pupuk sangat ditentukan oleh ketebalan dan lokasinya. Debu gunung yang tebal belum dapat digunakan langsung karena masih panas dan kandungan gasnya tinggi.
Dalam kasus Gunung Galunggung, lingkungan gunung yang hancur akibat debu hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk berubah menjadi hijau kembali. “Debu yang mencapai daerah jauh, seperti debu Merapi di Bandung, tetap sulit dimanfaatkan. Debu yang tipis akan mudah terbawa air hujan dan angin sehingga sulit untuk dimanfaatkan,” tuturnya.

Membersihkan

Ditinjau dari kasus letusan Gunung Kelud, masyarakat di sekitar gunung memiliki dua sapu panjang yang dapat digunakan untuk membersihkan pasir dan debu vulkanik di rumah mereka.

Sapu pertama yang dicelupkan ke air difungsikan untuk membasahi pasir agar mudah ditarik ke bawah. Adapun sapu kedua yang dilengkapi penampung debu digunakan untuk menarik material lembab yang berada di atas genteng.
Material di atas genteng jangan disiram dengan air karena justru akan menambah berat material sisa gunung api. Karena beban bertambah, kondisi itu bisa memicu ambruknya rumah. Teknik melembabkan material di atas genteng dan penggunaan sapu panjang ini bisa diterapkan dalam kasus di Merapi.

 

Karena itu, apabila kondisi sudah normal kembali pascaerupsi Gunung Merapi maka masyarakat setempat harus segera bangkit dan memanfaatkan apapun yang bisa dikembangkan untuk menggerakkan roda perekonomian. Ini adalah kesempatan membangun bagi masyarakat setempat khususnya para generasi muda.

Selain itu peran Pemerintah Daerah setempat pun turut andil dalam program recovery pascabencana alam yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Persoalan yang ada di lapangan adalah ketika masyarakat harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan menjadi pengungsi, tidak ada kegiatan ekonomi yang dijalankan. Hal ini mengakibatkan Mereka tidak memiliki uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam kaitan di atas, para pengungsi yang tidak berada di posko utama, bisa luput dari bantuan logistik. Beberapa pos pengungsian di kecamatan Turi yang sempat didatangi para relawan misalnya, bahan-bahan logistik yang ada mereka dapatkan dari pos pengungsian sebelumnya. Di satu tempat, bahan logistik tersedia, namun tidak ada peralatan untuk memasak sehingga saat relawan datang ke pos pengungsian tersebut, seluruh pengungsi belum mendapatkan makan hingga sore hari.

Kebutuhan tidak hanya makan saja, pastilah ada kebutuhan-kebutuhan lain. Maka jaminan terhadap kebutuhan hidup mereka melalui dukungan jatah hidup menjadi penting. Apalagi situasi masih terjadi dalam masa tanggap darurat yang semula dibatasi hingga tanggal 24 November 2010, telah diperpanjang hingga tanggal 9 Desember 2010.

 

Namun mulai hari Jumat pagi tertanggal 3 Desember 2010 pukul 09:00 WIB status bahaya Gunung Merapi di Jawa tengah diturunkan dari “awas” menjadi “siaga” dan kawasan bahaya dipersempit menjadi dua-setengah kilometer dari puncak Merapi untuk seluruh sektor yang meliputi wilayah kabupaten Sleman di Yogyakarta, kabupaten Magelang, Klaten dan Boyolali di Jawa Tengah.

 

Kepala Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Surono hari Jumat mengumumkan penurunan status bahaya Gunung Merapi di Jawa Tengah dari “awas” menjadi “siaga”.

Pascapenurunan tingkat bahaya Gunung Merapi, masyarakat korban pengungsi khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi mulai kembali beraktivitas seperti sediakala.

Namun hamparan sawah yang hijau serta indahnya pemandangan alam yang dulu terbentang luas, kini tinggal sebatas angan-angan belaka karena semua itu sudah dilahap habis oleh awan panas yang merajalela beberapa waktu lalu. Padahal sebagian besar mata pencaharian masyarakat petani adalah dari sektor pertanian, tetapi lahan tempat mereka mencari nafkah sudah tandus, kering dan masih banyak tertutup abu vulkanik sehingga sulit untuk kembali melakukan aktivitas pertanian seperti sebelum Merapi bererupsi

 

Sesaat setelah mendengar berita bahwa sumber utama pencaharian masyarakat korban pengungsi sudah tidak ada lagi sempat terpikirkan dalam benak saya jikalau suatu saat nanti Gunung Merapi kembali murka dan memuntahkan material letusan dalam skala yang jauh lebih besar disertai jangkauan awan panas yang semakin jauh tentu saja membuat kehidupan masyarakat lereng mati suri dari segala aktivitas.

Semoga pemerintah lebih bijak dalam mengambil sikap dan keputusan sehingga tidak ada satu pun pihak yang merasa dirugikan dan masyarakat korban pengungsi pun dapat segera kembali beraktivitas menggerakkan roda perekonomian yang telah lama mati suri pascaerupsi Gunung Merapi.