Alam semesta sering dibayangkan sangat luas dan sangat besar. Tetapi seberapa raksasa yang disebut “sangat besar“ ? Apakah sangat besar tetapi ada tepinya, dibatasi oleh semacam bungkus yang tidak kelihatan ? Ataukah tanpa batas sehingga betul-betul tak terhingga ?

Bentley dan Olbers
Pertanyaan tersebut sudah lama mengganggu para ilmuwan. Pada tahun 1692 Richard Bentley mengatakan, seandainya jagat raya terbatas, maka oleh gaya tarik gravitasi, kumpulan bintang dan galaksi yang “terbungkus“ akan tarik menarik sesamanya dengan sangat kuat. Akibatnya benda-benda langit saling bergerak mendekat lalu bertumbukan, hancur dalam ledakan dahsyat.

Di pihak lain jika ukurannya tak terhingga, oleh gaya gravitasi pula bintang-bintang akan ditarik ke sana ke mari tidak karuan, sehinga tercabik-cabik berantakan. Tetapi sepanjang sejarah, baik tumbukan-tumbukan hebat maupun pecah bercerai tidaklah teramati.

Lalu Heinrich Olbers pada tahun 1823 menulis, seandainya benar jagat raya berukuran tak terhingga, maka langit malam tidaklah hitam, karena di setiap sudut di setiap arah harusnya ada bintang yang tampak, baik yang jauh maupun sangat jauh. Hasilnya bukan malam gelap yang ditaburi bintang, tetapi langit yang seluruhnya temaram menyala.

Edgar Allan Poe
Terhadap teka teki yang memusingkan ini, secara tidak terduga petunjuk datang dari Edgar Allan Poe pada tahun 1848. Ia bukan astronom bukan pula fisikawan, tetapi penulis cerita misteri ! Pada intinya Poe menulis bahwa alam semesta memang sangat luas, tetapi banyak bintang yang berada demikian jauh sehingga cahayanya belum mencapai kita.

Untuk merambat, cahaya memang membutuhkan waktu 1 detik untuk jarak sejauh 300.000 km. Jika lintasan yang ditempuh lebih dari bertrilyun kali 300.000 km, niscaya ada cahaya yang masih dalam perjalanan menuju bumi. Jadi mungkin saja bintang-bintang menjejali angkasa, tapi banyak yang cahayanya belum sampai sehingga belum bisa dilihat dan gelaplah sebagian besar langit.

Tapi orang ingin bukti. Bagaimana caranya ? Untung ada teleskop Hubble, yang super kuat dan berada pada orbit di atas bumi sehingga tidak terhalang oleh atmosfir. Melalui pekerjaan yang melelahkan selama 4 bulan, pada tahun 2004 akhirnya didapatkan potret kumpulan galaksi yang paling redup yang bisa diamati (lihat foto, yang dilingkari elips).

Jaraknya tidak kepalang tanggung, 13 milyar tahun cahaya. Artinya cahaya sudah berkemas berangkat 13 milyar tahun yang lalu dari sana, dan baru tahun 2004 tiba di teleskop Hubble. Ingat bahwa big bang sebagai awal semesta terjadi 13,7 milyar tahun yang lalu (artikel big bang, netsains.com), jadi yang terlihat itu berada dekat dengan pinggiran jagat raya.

Karena alam semesta terus mengembang, kumpulan galaksi yang terpotret itu sekarang sudah lebih jauh beranjak dari posisinya semula. Tidak apa. Yang penting ketahuan bahwa tidak mungkin mengamati benda sejarak lebih dari 13-an milyar tahun cahaya. Batas alam semesta ditentukan oleh usia jagat raya sendiri.***

Bacaan:
Michio Kaku, Parallel Worlds, Penguin Books (2006)

http://en.wikipedia.org/wiki/Edgar_allan_poe

http://netsains.com/2009/11/bagaimana-“big-bang“-disimpulkan/