Gempa dan tsunami yang terjadi di Mentawai pada Senin 25 Oktober 2010 memakan lebih dari 450 korban jiwa. Tapi ternyata gempa itu sama sekali tak berkaitan dengan gempa besar yang telah lama diprediksi oleh para peneliti.

Lalu, di mana kira-kira para pakar memperkirakan gempa besar yang diprediksi bakal bermagnitudo 8,8 SR itu?

Menurut pakar dari Earth Observatory of Singapore yang telah lama meneliti kawasan Mentawai bersama LIPI, Profesor Kerry Edward Sieh, dari data gempa besar di Mentawai pada 1797 dan 1833 yang mereka dapatkan, ternyata hampir seluruh megathrust (sesar naik) antara Pulau Pagai Selatan sampai Pulau Batu belum pernah patah sejak tahun 1797 atau bahkan seratus tahun sebelumnya.

“Ini menyebabkan slip (pergeseran) sejauh 8 hingga 12 meter bisa terjadi pada bagian megathrust itu,” kata Sieh kepada VIVAnews.com melalui emailnya.

Data GPS yang mereka miliki, Sieh menambahkan, mengimplikasikan bahwa terjadinya patahan di megathrust itu terjadi sisi samudera megathrust, di bagian bawah, dan di bagian sisi dalam kepulauan itu (yang menghadap ke bagian Sumatera Barat).

Pergeseran di megathrust Mentawai (courtesy: EOS)

“Bila ini gempa terjadi dalam satu waktu, maka ukuran gempa bisa mencapai magnitude 8,8 SR,” Sieh menambahkan. Sebagai gambaran, gempa 1797 juga diikuti oleh tsunami yang diperkirakan mencapai hingga setidaknya 5 meter di Muara di Padang.

Lalu, seperti apa kerusakan yang bakal ditimbulkan akibat gempa tersebut? Sieh menuturkan, bila pergeseran megathrust hanya terjadi terjadi di bagian barat Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Sipora, maka diperkirakan bakal menimbulkan tsunami yang sangat serius yang bakal melibas Pantai Barat kepulauan itu.

Sementara bila pergeseran hanya terjadi di bagian bawah kepulauan itu, maka akan terjadi kenaikan permukaan pada kepulauan itu setinggi satu atau dua atau tiga meter, seperti yang terjadi pada gempa Nias Maret 2005 dan gempa di Pagai Selatan, pada 2007.

Peta perkiraan gempa besar Mentawai (courtesy: EOS)

Dalam kasus ini, akan sedikit air laut yang digerakkan, namun akan tetap memicu tsunami yang signifikan seperti pada gempa Nias 2005, dan gempa sepanjang Pantai Utara Bengkulu pada 2007.

Bila pergeseran atau slip terjadi di timur Siberut, Sipora dan Pagai Utara, maka air di bagian utara kepulauan itu akan terganggu dan Pantai Barat Sumatra akan terkena tsunami.

Untuk itu, kata Sieh, perlu disiapkan upaya mitigasi yang bervariasi di tiap-tiap daerah, mengingat tsunami yang terjadi baru-baru ini cukup besar.

“Persiapan yang memikirkan jangka yang lebih panjang akan lebih efektif dalam mempertahankan hidup banyak orang serta ketahanan ekonomi masyarakat, ketimbang hanya sekadar sebuah peringatan yanng dikeluarkan beberapa menit sebelum tsunami,” katanya.

Bangunan-bangunan di sekitar potensi gempa, menurutnya, musti dibuat lebih tahan gempa. Desa-desa juga harus didesain agar lebih tahan terhadap terjangan tsunami.

Lebih jauh, Direktur Jendral Daerah Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan yang juga pakar pemodelan tsunami, Subandono Diposaptono, mengatakan bahwa mitigasi gempa dan tsunami musti dilakukan secara menyeluruh.

Antara lain dengan menyiapkan pertahanan fisik alami meliputi terumbu karang, bukit-bukt pasir, hutan mengrove dan hutan pantai, maupun pertahanan fisik buatan seperti pemecah ombak, tembok laut, pintu air tanggul, shelter, rumah panggung, atau rumah evakuasi tahan bencana.

Sementara pertahanan non-fisik meliputi pembuatan peta rawan bencana, sistem peringatan dini, relokasi, pengaturan tata ruang, zonasi, tata guna lahan, serta penyadaran dan penyuluhan masyarakat. (kd)

 

• VIVAnews