Rasanya semua orang cukup paham definisi nasionalisme, yaitu kecintaan akan negara, bangsa dan rakyat (Indonesia). Kita semestinya sepakat bahwa kita mesti memilih pemimpin negara ini seorang yg memiliki nasionalisme tinggi.

Yang cinta akan bangsanya dan mendahulukan kepentingan negara ini di atas kepentingan pribadinya apalagi orang atau negara asing. Kalau ada pemimpin yg tidak nasionalis, selayaknya kita tidak memilih orang ini sebagai pemimpin kita apalagi pemimpin tertinggi negara ini.

Topik nasionalisme ini banyak dikaitkan dgn paham neoliberal yg dikatakan pro asing dan bahkan menjadi hambanya asing. Saya rasa kalau memang ada pemimpin dan calon pemimpin yg memang merupakan suruhan asing, selayaknya kita menjauhkan org ini dr jabatan2 publik. Tapi menjadi seorang nasionalis tidak berarti kita tidak bergaul dgn bangsa2 di dunia, tidak berhubungan bisnis dgn masyarakat internasional, tidak belajar pada negara2 yg maju ilmu dan teknologinya, menjadi tidak objektif dalam menilai bangsa2 lain, dan menyamaratakan bahwa bangsa2 lain itu jahat dan buruk.

Saat ini memang negara2 Barat adalah negara2 maju. Tapi apabila China, Jepang dan India terus bertumbuh dan terus mengejar ketertinggalan ekonomi, ilmu dan teknologi, bukanlah tidak mungkin kemajuan akan pindah ke Asia. Dulu China, India dan bangsa2 muslim pernah menjadi pusat dunia. Bangsa Amerika sendiri memerlukan waktu ratusan tahun untuk bisa menjadi pusat dunia. Dan kalau dilihat bahwa saat ini bangsa itu memiliki presiden berkulit hitam keturunan muslim dan menyukai sate dan rambutan, maka masih pantaskah kalau bangsa itu disebut murni bangsa Barat? Dalam hal2 tertentu kita justru harus belajar dr bangsa Amerika.

Saat ini kita mesti belajar dr Barat dalam ilmu dan teknologi. Hampir semua ilmu sekolah formal kita mesti pelajari dr Barat, walaupun saat ini sudah cukup banyak mahasiswa yg belajar ke Jepang dan India. Demikian juga dalam ilmu2 sosial spt ilmu ekonomi. Spt ilmu2 sekolahan lainnya, ilmu ekonomi juga terdiri dr body of knowledge yg sudah menjadi pengetahuan dasar. Sama spt ilmu fisika yg diberikan landasan kuat oleh Newton dan Einstein, ilmu ekonomi juga telah mengalami serangkaian kontribusi dr org2 yg telah memberikan hidupnya bagi ilmu ini. Ilmu ekonomi bahkan satu2nya ilmu sosial yg dianggap sudah cukup pantas utk disejajarkan dgn ilmu pasti dengan diberikannya penghargaan Nobel bagi ilmuwan2 yg memberikan kontribusi yg besar. Para ekonom juga memiliki obsesi yg sama dgn ilmuwan lainnya yaitu memahami fenomena yg terjadi, memprediksikan ke depan dengan bekal pemahaman yg lalu dan memikirkan agar ilmu ekonomi dapat terus memajukan peradaban manusia.

Balik lagi ke nasionalisme, apabila ada pemimpin dan calon pemimpin yg memang jelas telah mendahulukan kepentingan asing drpd kepentingan bangsa ini, maka pemimpin spt itu kita masukkan kotak saja. Tetapi apabila ada pemimpin yg melakukan kebijakan ekonomi sesuai dgn ilmu yg dipelajarinya di sekolah, apakah itu salah?

Karena ilmu ekonomi adalah ilmu sosial, memang ada celah utk dimanfaatkan sebagai ideologi. Kapitalisme memang bisa diasosiasikan dgn hedonisme yg menghalalkan segala cara dan pornografi yg tidak manusiawi, dan inilah yg memang kita mesti tanggulangi dan pikirkan, agar produk sampingan dr ideologi mekanisme pasar ini tidak malah lebih mengemuka drpd hal2 yg berguna bagi bangsa ini.

Sebagai muslim (walaupun tidak terlalu taat) saya merasa mekanisme pasar tidak bertentangan dgn agama yg saya anut. Nabi adalah pedagang dan pengusaha yg berhasil. Beliau berdagang selama berminggu-minggu ke kota2 yg cukup jauh dr kotanya tinggal dan bisa dikatakan memperdagangkan komoditi internasional.

Tetapi ketika beliau menjadi pemimpin jelas jelas beliau tidak mencampur-adukkan antara kepentingan pribadinya dgn kepentingan umat. Beliau adalah contoh seorang pengusaha sukses yg sukses juga menjadi pemimpin. Kehidupan nabi yg sedemikian sederhana bahkan dikatakan bahwa pakaian beliau banyak tambalannya dan tidur hanya di tikar biasa, menunjukkan suatu conflict of interest nol persen. Bisakah pemimpin kita mencontoh ini walaupun tentu saja kita sadar bahwa kita tidak akan menuntut pemimpin kita seekstrim Nabi?

Perjalanan bangsa ini masih sangat jauh dr bayangan akan suatu bangsa yg sejahtera dimana kemiskinan, kelaparan dan kebodohan menjadi kenangan yg hanya bisa dilihat di film dokumenter dan musium kemiskinan. Tidak ada pula resep cespleng yg akan dengan seketika menghilangkan hal itu dr bumi Indonesia. Kesejahteraan bangsa ini tidak bisa diraih dgn melawan hukum alam kesabaran, kerja keras, dan pengorbanan. Pilihlah pemimpin yg bisa menunjukkan keteladan dalam berbuat dan terangnya pikiran yg bisa membedakan antara yg logis dan tidak logis.

foto:deathmaster.blogdetik.com