ecara garis besar software entrepreneurship merupakan bagian dari tema besar yaitu kewirausahaan itu sendiri. Akan tetapi seiring dengan semakin fokusnya bidang-bidang yang dikembangkan oleh para entrepreneur membuat munculnya berbagai istilah-istilah baru yang mewakili bidang tersebut.

Sebagai contoh saat ini mulai bermunculan para penulis yang merangkap sebagai penerbit yang kemudian dikenal dengan istilah authorpreneur/writepreneur, begitu pula para akademisi/ilmuwan yang mengkomersialisasikan ilmu dan kemampuan mereka sebagai konsultan ahli, penemu dan sejenisnya yang kemudian dikenal dengan istilah knowledgepreneur.

Sekarang bagaimana dengan softwarepreneur? Menurut hemat kami software entrepreneurship adalah suatu karakter, pola pikir (mind set), kebiasaan, kecakapan dalam mencari peluang, melakukan inovasi dan berani mengambil resiko (calculated risk taker) yang dimiliki oleh seseorang dalam bidang perangkat lunak (software).

Dari pengertian sederhana di atas kita bisa melihat bahwa siapa pun yang memahami seluk beluk dunia software sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi software entrepreneur, tentu dengan syarat harus memiliki karakter dan kemampuan seorang wirausahawan. Begitu pula sebaliknya seseorang yang memiliki sifat dan karakter entrepreneur dapat juga menjadi software entrepreneur dengan syarat memahami dan tahu seluk beluk dunia software.
Pertanyaannya sekarang, apakah seseorang yang ingin menjadi software entrepreneur harus paham secara teknis software itu sendiri dalam artian harus berasal dari seorang developer/programer? Jawabannya adalah tidak harus, karena kembali kepada sifat dan pola pikir seorang entrepreneur adalah pandai mencari peluang dan inovasi. Sehingga dengan cukup memahami karakteristik, environment dan seluk beluk dunia software secara umum dan khusus, maka seorang tanpa kekuatan teknis pun bisa menjadi softwarepreneur. Karena dari pemahaman yang mendalam tentang dunia piranti lunak tersebut seorang entrepreneur yang jeli melihat peluang bisa menciptakan sebuah produk/jasa berbasis software tersebut. Wah kok bisa begitu ya? Tentu saja, karena ketika seorang entreprenur non programer menemukan ide maka mereka cukup menggunakan tenaga para programer/developer yang memang paham secara teknis bagaimana membuat produk inovasi entrepreneur tersebut. Mudah bukan?
Terus kalau seorang bukan programer/developer pun bisa menjadi softwarepreneur berarti programer/developer jago pun seharusnya bisa dong menjadi softwarepreneur? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Tidak, bila programer tersebut memiliki sifat dan karakteristik entrepreneur. Karena biasanya para programer sudah sangat asyik dengan dunia mereka sendiri dan lebih senang memecahkan masalah-masalah yang diberikan untuk dipecahkan dengan kode-kode program yang mereka buat. Suatu prestasi dan keberhasilan tersendiri bila seorang programer bisa memecahkan masalah dan membuat software yang bagus dan berkualitas sesuai dengan tuntunan klien misalnya. Sehingga waktu, kebiasaan dan pola pikir programer biasanya sudah sedemikian rupa terbentuk, sehingga ketika harus berpikir tentang
kalkulasi produk, untung rugi, dan keberanian mengambil resiko biasanya ini yang menjadi pembeda utama antara entrepreneur dengan programer. Karena masalah bisnis di bidang software tidak hanya berhenti produk selesai dibuat, masih panjang lagi rantai bisnis lain yang mesti dilalui seorang softwarepreneur.
Masalahnya adalah programer biasanya sudah merasa puas bila berhasil membuat sebuah produk, padahal seorang entrepreneur memiliki pola pikir “setelah produk jadi, bagaimana mengubah produk tersebut bisa menjadi uang”? Walaupun memang kalau masalah inovasi/ide kami pikir seorang programer tidak akan kesulitan menemukannya. Sebaliknya bila seorang programer juga memiliki sifat dan karakteristik entrepreneur ini yang lebih baik dan ideal. Secara keilmuwan teknikal sudah memiliki modal yang baik, dan secara entrepreneurship sudah ada. Hanya saja memang ketika seorang programer/developer memutuskan untuk fokus menjalani bisnis software, maka nantinya dia harus dihadapkan pada pilihan ingin fokus sebagai programer atau softwarepreneur.
Karena untuk membesarkan sebuah bisnis/usaha software sangat sulit bila masih merangkap tugas keduanya. Dari sisi pengembangan produk dan menjalankan bisnis, idealnya ditangani oleh orang-orang yang mumpuni dan cakap. Sehingga tidak heran bila kita bisa lihat saat ini seorang programer yang masih merangkap pula sebagai marketing dan CEO sekaligus.

Selanjutnya bahasan tentang software entrepreneurship tidak hanya berhenti sampai di sini. Masih banyak lagi building block/body of knowledge yang perlu diketahui. Misalnya mulai dari aspek produksi, strategi menembus pasar, segmentasi pasar, model bisnis produk softwae yang dikembangkan, revenue model, aspek operasional bisnis, staffing/SDM, legal, pricing strategy dan masih banyak lagi aspek-aspek lainnya yang akan kita bahas di dalam blog ini setahap demi setahap.

Ditambah lagi Indonesia adalah dikenal sebagai negera yang sangat unik dalam bidang industri/bisnis softwarenya. Sering disebutkan bahwa ilmu marketing tidak berlaku bila diterapkan di negara ini, apalagi ini adalah bisnis software, yang masih belum dilihat sebagai komoditi bisnis yang menjanjikan bagi sebagian besar masyarakatnya.

sumber ; netsains.com

Iklan