Para ahli kini makin yakin bahwa polusi udara berdampak lebih buruk bagi kualitas kesehatan. Bukan cuma sebatas pada kesehatan pernapasan, melainkan juga bagian tubuh lain yang ikut menderita. Kualitas udara yang buruk terbukti berhubungan erat pada penyakit jantung, pembuluh darah, dan otak.

Para pakar kesehatan dari American Heart Association menyebutkan, kaitan antara penyakit jantung dan polusi udara semakin terbukti sejak mereka menerbitkan kajiannya pada tahun 2004 lalu.

Dalam penelitian yang dipublikasikan bulan Mei 2010 lalu, para ahli jantung itu juga menemukan kaitan antara polusi udara dan berbagai penyakit lain, seperti stroke, gangguan irama jantung, serangan jantung, dan penyakit vaskular.

Walaupun risikonya bersifat individual tergantung pada faktor risiko yang mungkin dimiliki tiap orang, seperti kebiasaan merokok, adanya tekanan darah tinggi, dan obesitas, tetapi pengaruh dari pencemaran udara tetaplah tinggi.

Hal yang paling merisaukan, menurut para ahli, adalah partikel halus yang berasal dari jelaga pembakaran bahan bakar minyak, mesin diesel atau pembakaran kayu, yang banyak ditemukan dari pabrik, pembangkit energi, atau kendaraan bermotor.

“Partikel halus ini bisa masuk ke dalam paru-paru,” kata Norman Edelman, chief medical officer dari American Lung Association. Para ahli menyebutkan, partikel halus itu bisa menyebabkan inflamasi di paru yang bisa menyebar ke pembuluh darah, merusaknya, dan membuatnya lebih rentan pada penyempitan atau sumbatan di pembuluh darah.

Teori lain menyebutkan, partikel berukuran sangat kecil itu akan terserap ke pembuluh darah atau ke darah dan menyebabkan kerusakan secara langung. Udara yang tercemar juga memicu aktivitas sistem saraf yang abnormal dan berpengaruh pada jantung dan pembuluh darah.

Beberapa penelitian juga secara nyata membuktikan kaitan antara polusi udara dan penyakit asma, terutama pada anak-anak. Penelitian lain menyebutkan, paru-paru anak yang tinggal di lingkungan dengan kondisi udara yang buruk kurang bisa berkembang dan berfungsi dengan baik, dan efeknya akan bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup.

Hal ini seharusnya menjadi concern penduduk yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta. Sebab, tingkat polusi udara di kota ini masih sangat tinggi. Sektor transportasi menyumbang tingkat polusi sekitar 70 persen akibat minimnya transportasi massal yang ramah lingkungan.

sumber : kompas.com