Lahan itu bermetamorfosis dari tempat sampah menjadi hutan kota yang hijau. ”Peradaban” pun perlahan bersemi di sana.

Rabu (4/8) siang yang gerah. Berbagai kendaraan melata di Jalan H Benyamin Sueb yang dulunya landas pacu Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat. Para pengendara bertubi-tubi membunyikan klakson yang memekakkan telinga, mungkin karena kesal atas kemacetan lalu lintas.

Namun, keruwetan dan kebisingan itu langsung luruh ketika kami memasuki Hutan Kota Kemayoran yang terletak tak jauh dari jalan tersebut. Hutan penuh pepohonan yang tumbuh subur di tepian danau. Sekawanan burung belibis bergantian meluncur dari ujung-ujung dahan pohon lantas menyelam ke dalam air telaga sambil menangkap ikan-ikan kecil.

Wah, benar-benar seperti dunia lain di tengah kota Jakarta yang ruwet.

Empat tahun lalu, jangan harap bisa melihat kawanan burung mirip bebek itu bermain-main di sana. Maklum, ketika itu, belum tumbuh hutan di sana. Lahan itu pun masih berupa rawa, sebagian malah jadi tempat buangan sampah.

Lewat Gerakan Indonesia Menanam yang dipelopori Menteri Kehutanan (saat itu) MS Kaban tahun 2006, tempat pembuangan sampah itu ditanami ribuan bibit pohon. Dalam empat tahun, lahan itu bermetamorfosis menjadi hutan kota teduh seluas 6,3 hektar. Sebanyak 1.700 jenis tanaman, seperti angsana, akasia, kiara, pulai, sengon, ketapang, bintangur, meranti, hingga trembesi, tumbuh rapat di sana. Pepohonan itu juga menjadi rumah bagi 87 spesies burung, seperti belibis, pelatuk, tekukur, kutilang, dan trujukan.

”Saya pernah membawa karpet dan tidur di hutan ini. Rasanya segar sekali. Semua stres hilang,” kata Qadir Lamanele, Ketua Kelompok Suara Hijau yang menjadi event organizer Program Gerakan Indonesia di Hutan Kemayoran.

Menurut Kaban, kehadiran hutan kota di Kemayoran merupakan simbol, bahwa sebagian lahan di kawasan komersial yang mahal pun bisa dijadikan lahan terbuka hijau. ”Hutan itu akan menjadi paru-paru bagi kawasan di sekitarnya,” katanya.

Sayang, hutan kota yang berdampingan dengan Padang Golf Kemayoran itu belum bisa diakses publik. ”Kalau pohonnya sudah besar-besar, hutan kota ini akan dibuka untuk umum,” kata Sindoro Soekarno, Kepala Divisi Pengembangan Usaha Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran yang mengelola hutan tersebut.

Srengseng

Kisah serupa berlangsung di Hutan Kota Srengseng di Jalan Kelik, Kembangan, Jakarta Barat. Hutan itu dulunya juga tempat pembuangan sampah. Baru pada awal 1990-an, lahan seluas 15 hektar itu disulap menjadi hutan kota.

Sekarang, lahan itu menjadi rimbun dan sejuk. Aneka tanaman, seperti matoa, sawo kecik, walisongo, saga, bintaro, bungur, jacaranda, dan sengon, tumbuh di sana dengan ketinggian rata-rata 10-20 meter. Satwa liar, seperti burung raja udang, burung emprit, biawak air, ular tanah, ular air, dan beberapa jenis kadal, tinggal di sana.

Sayangnya, hutan tersebut belakangan ini kurang terawat. Semak belukar tumbuh liar tinggi di sela-sela pepohonan dan sampah plastik berserakan. Air telaga di dalam hutan itu pun kadang menebarkan aroma busuk.

Meski begitu, penduduk sekitar tetap memanfaatkan hutan itu. Mungkin mereka tidak memiliki tempat lain sebagai pilihan untuk sejenak menghindar dari kesumpekan kota. Setiap akhir pekan, orang-orang tetap mengalir ke hutan itu untuk senam pagi atau menyusuri jalur lari (jogging track) di sekeliling telaga. Sementara itu, anak-anak bersenang-senang di area bermain, tak jauh dari pintu gerbang.

Kehadiran hutan kota di Kemayoran dan Srengseng menandai adanya kesadaran untuk mengembangkan ruang terbuka hijau. Tak hanya di lahan terbuka, sebenarnya beberapa tahun terakhir muncul juga tren membuat taman vertikal. Jika di lahan biasa taman tumbuh horizontal, taman vertikal menggunakan pot-pot yang menempel pada dinding gedung hotel, perkantoran, atau rumah. ”Gagasan ini muncul karena lahan di kota makin sempit, terbatas, dan mahal. Taman vertikal juga berfungsi menyerap polusi udara, mengurangi kebisingan, dan menyegarkan pemandangan,” kata Agung Yuswanto, penata taman vertikal.

Pulau panas

Hanya saja, jumlah hutan kota dan taman sebagai ruang terbuka hijau seperti itu masih minim. Dibandingkan dengan seluruh luas Jakarta yang mencapai 650 kilometer persegi, ruang terbuka hijau di kota metropolitan ini hanya mencapai 9,6 persen. Angka ini jauh dari luas minimal ruang terbuka hijau, yakni 30 persen.

”Kalau kita punya ruang terbuka hijau 30 persen, kita bisa hidup sehat,” ujar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.

Sebaliknya, jika kurang dari itu, hidup kita akan dirongrong masalah. Polusi udara akan menjadi-jadi, air laut meresap ke daratan, dan kita terancam kekeringan. ”Jika dibiarkan begitu terus, suhu udara akan memanas dan kota ini menjadi pulau panas,” paparnya.

Kalau udara kian panas, apalagi ditambah kemacetan yang menjadi-jadi, lanjut Yayat, penghuni kota ini pun gampang terkena gangguan jiwa.

sumber : http://megapolitan.kompas.com/