Tingginya angka pengangguran yang disumbangkan perguruan tinggi membuktikan, bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih lebih  mengutamakan menghasilkan lulusan ketimbang bisa memberdayakan kualitas lulusannya, baik di pasar kerja maupun dunia wirausaha. Tracer study dinilai mutlak dilakukan perguruan tinggi sebagai salah satu cara mengevaluasi kurikulum pendidikan untuk memperbaiki kualitas para lulusannya.

Hanya, sangat disayangkan kesadaran yang semakin kuat ini belum dibarengi dengan penguasaan metodologi yang tepat.
— Arie Susilo

Ketatnya persaingan antarlulusan perguruan tinggi, baik dengan lulusan dalam maupun  luar negeri, dirasakan ikut memicu pentingnyatracer study untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi. Pada kondisi ini, perguruan tinggi dituntut untuk merumuskan celah keunggulannya secara optimal dan menjadikantracer study sebagai perangkat evaluasi yang tepat untuk menjawab kebutuhan tersebut.

“Hanya, sangat disayangkan kesadaran yang semakin kuat ini belum dibarengi dengan penguasaan metodologi yang tepat,” papar Direktur Hubungan Alumni UI, Drs Arie Susilo, dalam seminar nasional dan pelatihan Fase Persiapan Lapangan Tracer Study yang diselenggarakan Career Development Center Universitas Indonesia (CDC UI), di Kampus UI, Depok, Rabu (4/8/2010).

Arie menuturkan, banyak hasil tracer study yang dianggap gagal dan sumir, karena seringkali mengambil kesimpulan yang terlalu jauh dari data yang ada. Hal itu terjadi, kata dia, kerap disebabkan oleh lemahnya perencanaan, pengumpulan data, analisis data, serta penarikan informasi dan kesimpulan.

“Metodologinya itu yang penting, karena harus tepat sebagai cara memeroleh validitas data lulusan, mulai pengumpulan data melalui kuisioner online, standarisasi perangkat dan prosedur, target populasi lulusan, hingga periode pelaksanaan,” ujarnya.

“Umumnya kegagalan tracer study adalah karena biayanya mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, tetapi justeru di situlah kemajuan suatu lembaga pendidikan tinggi bisa terukur dengan baik,” tambah Arie.

Terkait dengan itu, Kasubdit Kurikulum dan Program Studi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementrian Pendidikan Nasional, Nursamsiah Asharini, memaparkan, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) saat ini tengah menyiapkan kebijakan peningkatan kualitas dengan menerapkan kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI) dan sistem penjaminan mutu.

Dia mengungkapkan, KKNI akan menjadi sebuah sistem yang berdiri sendiri untuk menjadi jembatan antara sektor pendidikan dan pelatihan-pelatihan dalam rangka membentuk sumber daya manusia (SDM) nasional yang berkualitas dan bersertifikasi melalui skema pendidikan formal, nonformal, informal, pelatihan kerja atau pengalaman kerja.

“Sehingga untuk itulah tracer study menjadi penting karena hasilnya bisa menjadi bahan kebijakan pendidikan oleh pemerintah serta pencapaian di perguruan tinggi agar bisa dipertanggung jawabkan kepada publik, klien, pelanggan, maupun pemangku kepentingan,” ujar Nursamsiah.

Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Rabu (4/8/2010), harmonisasi antara dunia kerja dan pendidikan saat ini semakin mengkhawatirkan akibat kompetensi pencari kerja yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Dari 116 juta jiwa angkatan kerja di Indonesia, sebanyak 8,59 juta adalah penganggur. Lulusan perguruan tinggi menyumbang cukup banyak, yaitu sekitar 14,24 juta jiwa.

sumber : kompas.com