Mavi Marmara, kapal penumpang Turki yang menjadi ladang pembantaian relawan muslim oleh tentara Israel, ditarik keluar dari pelabuhan Israel, Kamis (5/8/2010).

Mavi Marmara dibawa keluar dari pelabuhan Haifa oleh sebuah kapal penarik besar Turki yang dikirim untuk membawa kembali kapal tersebut. Dua kapal lain yang juga ditahan oleh Angkatan Laut Israel selama penyerbuan 31 Mei 2010 itu juga akan ditarik dari pelabuhan Ashdod, Israel selatan pada Kamis.

“Tiga kapal penarik Turki akan tiba di Israel hari ini. Awak mereka akan menerima tiga kapal yang ditambatkan di Israel bersama perlengkapan pribadi yang ada di atas kapal-kapal itu,” kata Kementerian Pertahanan.

Ketiga kapal itu merupakan bagian dari armada enam kapal yang berusaha menembus blokade angkatan laut Israel terhadap Jalur Gaza pada 31 Mei. Belum jelas apakah tiga kapal yang lain masih berada di pelabuhan Israel.

Kapal bantuan Rachel Corrie juga diyakini ditahan di sebuah pelabuhan Israel, namun langkah-langkah hukum masih dilakukan untuk membebaskannya. Israel menjadi sorotan internasional setelah serangan mematikan terhadap armada kapal bantuan itu.

Pasukan komando Israel menyerbu kapal-kapal dalam armada bantuan yang menuju Jalur Gaza pada 31 Mei, yang menewaskan sembilan aktivis Turki pro-Palestina dalam serangan di salah satu kapal itu.

Hubungan Israel-Turki terperosok ke tingkat terendah sejak kedua negara itu mencapai kemitraan strategis pada 1990-an akibat insiden tersebut.

Turki memanggil duta besarnya dari Tel Aviv dan membatalkan tiga rencana latihan militer setelah penyerbuan itu. Turki juga dua kali menolak permohonan pesawat militer Israel menggunakan wilayah udaranya.

Kekerasan parah dalam penyerbuan menjelang fajar Senin (31/5) oleh pasukan Israel terjadi di kapal Turki, Mavi Marmara, yang memimpin armada kapal bantuan menuju Gaza.

Israel berkilah, penumpang-penumpang kapal itu menyerang pasukan, namun penyelenggara armada kapal itu menyatakan bahwa pasukan Israel mulai melepaskan tembakan begitu mereka mendarat.

Setelah serangan itu, Mesir yang mencapai perdamaian dengan Israel pada 1979, membuka perbatasan Rafah-nya untuk mengizinkan konvoi bantuan memasuki wilayah Gaza — kalangan luas melihatnya sebagai upaya untuk menangkal kecaman-kecaman atas peranan Mesir dalam blokade itu.

Enhanced by Zemanta