Kata orang, “Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan salah satu caranya adalah dengan belajar pada pengalaman sejarah masa lalu”. Ada sebuah akar tradisi yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat Islam, yang mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan. Yaitu, penyebaran Islam melalui akulturasi agama dan budaya yang dilakukan oleh Wali songo (sembilan wali/sunan).

Ada sebuah akar tradisi yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat Islam, yang mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan agama dan budaya. Yaitu, penyebaran Islam melalui akulturasi budaya yang dilakukan oleh Wali songo (sembilan wali/sunan).

Salah satunya bisa kita lihat pada bangunan Menara Kudus, yang dibangun oleh Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) pada tahun 1949. kalau kita lihat bangunan menara kudus berbentuk bangunan Hindu dengan batu bata yang ditumpuk seperti candi. Bentuk menara yang digunakan untuk syi’ar agama Islam ini mirip dengan candi-candi pada masa Majapahit. Walau Sunan Kudus bisa dianggap cukup kaku dalam penyebaran kepercayaannya dan mendukung formalitas dibandingkan beberapa wali lainnya, namun ia juga masih mempunyai kemauan untuk merangkul unsur-unsur dari agama lain.

Selain itu adalah adanya tradisi Ziarah makam yang sudah mengakar pada masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat Jawa. Menurut Dr. Purwadi, Doktor filsafat lulusan UGM Yogyakarta, ziarah ke makam adalah meneruskan tradisi Hinduisme, yakni upacara Srada. Tradisi ini ada sejak masa pemerintahan hayam wuruk, raja Majapahit sekitar pertengahan abad ke-14. Srada adalah upacara memuliakan leluhur yang sudah meninggal. Dari kata Srada inilah, masyarakat Jawa mengenal “Nyadran” yaitu kegiatan ziarah ke makam leluhur.

Pada Astana Gunung Jati, yaitu Makam Sunan Gunung Jati, tidak adalah beragama Islam, tetapi juga penganut agama Budha dan Konghucu dari etnis Tionghoa. Mereka datang ke kompleks pemakaman untuk Ziarah ke makam Ong Tien, Putri kaisar Hong Gie dari dinasti Ming, yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Pada Astana Gunung Jati, yaitu Makam Sunan Gunung Jati, tidak adalah beragama Islam, tetapi juga penganut agama Budha dan Konghucu dari etnis Tionghoa. Mereka datang ke kompleks pemakaman untuk Ziarah ke makam Ong Tien, Putri kaisar Hong Gie dari dinasti Ming, yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati.

Pada Astana Gunung Jati, yaitu Makam Sunan Gunung Jati, tidak adalah beragama Islam, tetapi juga penganut agama Budha dan Konghucu dari etnis Tionghoa. Mereka datang ke kompleks pemakaman untuk Ziarah ke makam Ong Tien, Putri kaisar Hong Gie dari dinasti Ming, yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Disediakan tempat khusus untuk tempat peziarah Ong Tien, di sebelah barat serambi depan kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati.

Akulturasi juga ada dalam sebuah ajaran yang di sampaikan Sunan Bonang melalui simbol budaya Jawa. Menurut Sunan Bonang, kita harus berpuasa dengan ikhlas dan hanya mencari ridho Tuhan agar setelah puasa bisa menikmati kupat. “Kupat” adalah makanan khas saat lebaran. Berupa nasi putih yang di masak di dalam janur. “Janur” di sini adalah daun kelapa yang masih muda. Sunan Bonang, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa-nya Bon Ang, mengartikan kupat sebagai laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: Lebar, Lebur, Luber, dan Labur. Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.

Orang yang mendapat “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah orang yang lembut dan santun terhadap sesama umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidak- adilan. Masing-masing diri kitalah yang dapat menentukan apakah kita berpuasa untuk meraih “jatining nur” dan “laku sing papat” ataukah hanya sekedar basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.

Sedangkan “janur” sendiri diartikan oleh beliau sebagai Jatining Nur, dalam pengertian kalau kita dapat berpuasa dengan penuh keyakinan dan keteguhan sikap (iman) dan penuh perhitungan serta kehati-hatian (ihtisaab) pada bulan syawal kita akan mendapat jatining Nur. Jatining nur inilah yang sejatinya di sebut fitrah. Memperoleh jatining nur berarti telah kembali ke Fitrah. Yang akan ditandai dengan perubahan perilaku dari yang semula tidak baik menjadi baik dan semula baik menjadi lebih baik lagi. Mereka yang kembali ke fitrah dengan “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku.

Jadi, orang yang mendapat “jatining nur” dan “laku sing papat” adalah orang yang lembut dan santun terhadap sesama umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidak- adilan. Masing-masing diri kitalah yang dapat menentukan apakah kita berpuasa untuk meraih “jatining nur” dan “laku sing papat” ataukah hanya sekedar basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.

Masih banyak proses-proses akulturasi budaya yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan agama Islam. Misalnya, Sunan Kalijogo lebih banyak menyampaikan nilai-nilai religiusitas dengan menyatukannya dalam pertujunjukan wayang Kulit. Baik cerita Mahabarata maupun Ramayana yang merupakan produk budaya agama Hindu. Dari sini kita dapat belajar dan bercermin bahwa Tradisi telah mengajarkan pada kita semua untuk menghargai perbedaan agama dan budaya. Perbedaan ini justru memperdahsyat kebudayaan dan agama itu sendiri.

Enhanced by Zemanta