Presiden AS Barack Obama memperingatkan Presiden Palestina Mahmud Abbas, kegagalan memulai kembali perundingan perdamaian dengan Israel akan mempengaruhi hubungan AS-Palestina.

“Peringatan itu disampaikan Obama dalam suratnya kepada Presiden Abbas,” kata seorang pejabat Palestina di Ramallah, Sabtu (31/7/2010).

Dalam surat itu, Obama juga berjanji mendekati negara-negara Arab, Eropa dan Rusia untuk mencari dukungan bagi rakyat Palestina jika perundingan langsung Palestina-Israel kembali terlaksana.

“Dalam surat itu, Presiden Obama memperingatkan Presiden Mahmud Abbas bahwa penolakannya untuk kembali ke meja perundingan langsung dengan Israel bulan depan akan membawa konsekuensi bagi hubungan AS-Palestina,” katanya.

Surat berisi 16 poin yang menerapkan pendekatan penghargaan dan ancaman hukuman itu juga menggarisbawahi apa yang disebut Presiden Obama kesiapan PM Israel Benjamin Netanyahu untuk kembali berunding.

“Kini saat yang tepat untuk memulai kembali perundingan langsung dengan Israel,” kata Obama seraya menekankan kesiapan Netanyahu untuk kembali berunding.

Terkait dengan masalah perundingan dengan Israel, Presiden Abbas mengajukan sejumlah syarat sebelum pihaknya mau memulai kembali perundingan perdamaian langsung dengan Tel Aviv.

Hanya saja syarat-syarat yang diajukan pemimpin Palestina itu ditolak pemerintah Israel.

Di antara syarat-syarat itu adalah Israel harus menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Yerusalem timur dan Tepi Barat yang dijajah Israel sejak 1967.

Presiden Abbas mengatakan, perundingan tentang wilayah perbatasan negara Palestina merdeka nantinya harus didasarkan pada kondisi perbatasan sebelum 1967.

Jika sampai September 2010 tidak ada kemajuan berkaitan dengan tuntutannya kepada Israel, Presiden Abbas mengancam akan berpaling ke Dewan Keamanan PBB.