Sudah sekian lama tinta isi ulang untuk printer lebih populer di mata masyarakat dibanding tinta asli. Dengan alasan harga lebih murah, masyarakat lebih memilih tinta isi ulang dibanding tinta original. Benarkah tinta isi ulang lebih murah?

Ink Product Manager HP Adrian Lesmono di Yogyakarta, Jumat (30/7/2010), mengatakan masyarakat umumnya memaknai “murah” semata-mata dari sisi harga dan mengabaikan hasil dan proses cetak. Padahal, kata dia, “murah” seharusnya dimaknai lebih menyeluruh.

Ia mencontohkan, tinta HP seri 703 harganya Rp 85 ribu per cartridge bisa mencetak 600 halaman. Artinya, ongkos cetak per halaman bisa dihitung dengan dengan pasti yaitu sekitar Rp 140 per halaman.

“Sementara tinta suntik atau infus seri sejenis harganya sekitar Rp 60 ribu per cartridge. Tapi kita tidak bisa mengitung berapa biaya cetak per lembarnya. Alasanya macam-macam. Misalnya, tintanya belum habis ternyata print head-nya rusak dan harus diganti. Atau, belum dipakai lama ternyata tintanya bermalah,” jelasnya.

Ukuran “murah” tinta isi ulang juga sulit diukur, lanjut Adrian, karena seringkal terjadi hal-hal di luar harapan yang mempengaruhi produktivitas. Ia mencontohkan, dengan tinta original hasil cetak dijamin bagus kualitasnya secara konsisten dari halaman awal hingga akhir.

Sementara, dari hasil uji coba yang dilakukannya tinta isi ulang tidak bisa memberikan konsistensi kualitas. “Coba aja deh kalau pakai tinta isi ulang pasti di cetakan kesekian kadang muncul garis-garis atau gradasi ketebalan cetak. Kadang kita tidak puas dengan hasil cetak lalu membuang kertas dan print ulang. Berapa kertas yang dibuang,” katanya.

Contoh lain, ucap Adrian, “Berapa kali pekerjaan kita tertunda karena hasil cetak tidak baik. Kalau hasil cetak tidak baik, orang lalu uring-uringan, dan produltivitas terganggu. Hal-hal seperti ini sering diabaikan orang dalam memaknai ‘murah’.”