Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, Iran siap untuk memulai lagi pembicaraan nuklir yang telah lama macet dengan negara-negara besar dunia pada September mendatang, Press TV berbahasa Inggris republik Islam itu melaporkan, Selasa (27/7/2010).

“Iran akan memulai lagi pembicaraan nuklir dengan Barat pada September,” kata pemimpin garis keras itu, seperti dikutip oleh saluran televisi tersebut.

Namun, Ahmadinejad menambahkan bahwa Iran ingin Turki dan Brasil ikut serta dalam perundingan itu.

Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki telah mengatakan bulan ini bahwa pembicaraan mengenai program nuklir secara keseluruhan dapat dimulai pada September setelah kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengulurkan tangan pada Iran dalam sepucuk surat, Juni lalu.

Pernyataan Presiden Iran itu tiba setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi baru terhadap sektor energi penting Iran, Senin, dalam upaya untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya yang sensitif.

Kanada mengikuti tindakan serupa, dan Amerika Serikat yang memimpin upaya internasional untuk mengekang ambisi atom Iran menyatakan langkah-langkah hukuman itu akan menekan keras Iran.

Brasil dan Turki, yang telah menolak sanksi baru terhadap Iran di Dewan Keamanan PBB, telah menyusun perjanjian pertukaran bahan bakar nuklir dengan Teheran untuk mengapalkan separuh uraniumnya yang telah sedikit diperkaya ke luar negeri untuk ditukar dengan bahan bakar reaktor nuklir.

Negara-negara besar Barat mengkhawatirkan Teheran ingin membuat sebuah bom atom, tuduhan yang republik Islam itu bantah.

Ahmadinejad mengumumkan pada 28 Juni lalu bahwa ia telah membekukan pembicaraan nuklir selama dua bulan sebagai pembalasan atas putaran sanksi keempat yang dijatuhkan oleh Dewan Keamanan PBB, tiga pekan sebelumnya.