Sebanyak 87 tim robot dari 11 universitas dari seluruh Indonesia mengikuti kompetisi ‘Robotline Follower Contest’ yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM, Sabtu (24/7). Beberapa tim diantaranya berasal dari UGM, ITB, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Trisakti dan Universitas Padjajaran.

Roboline Follower Contest merupakan kegiatan yang diselenggarakan tiap tahun yang bertemakan Techno Corner UGM. Dalam kompetisi ini, robot-robot saling berpacu pada lintasan yang bergaris hitam. Selain harus cepat, robot harus mampu membaca garis hitam lintasan, sehingga bisa berjalan dengan stabil.

Kompetisi yang berlangung di lantai dasar Plaza KPTU Teknik ini, memang sejak sabtu pagi sudah dipenuhi oleh tim peserta. Secara bergantian dari mereka menjajal kemampuan robot masing-masing untuk menjadi yang tercepat mencapai finish. Tidak semua robot berhasil menyelesaikan tugasnya mencapai finish. Bahkan ada yang mandeg di tengah lintasan. Bagi mereka yang berhasil menyentuh finish, akan dibawa ke hadapan meja dewan juri untuk dinilai keakuratannya melalui lintasan dan hasil catatan waktu yang mereka bukukan. Para dewan juri yang terdiri dari 4 orang mahasiswa ini juga menilai bentuk desain robot masing-masing.

Ada yang unik dalam kompetisi kali ini. Seorang perempuan berjilbab berada di tengah arena lintasan. Ia sedang mengamati dan mengikuti robotnya yang tengah melaju di arena lintasan. Kehadiran peserta perempuan ini mengundang semangat para peserta lainnya. Di lapangan, bukan hanya si perempuan yang terlihat semangat, peserta lain pun yang menyaksikan di pinggir arena memberi dukungan kepada si “kura-kura cantik” agar bisa menyelesaikan tugasnya. Nama terakhir ini bukanlah julukan buat si perempuan tadi, tapi nama robot buatannya. Robotnya pun, sepintas tak ubahnya mirip kura-kura. Namun sedikit berbeda, robot kura-kura ini sengaja dicat berwarna pink, sehingga terlihat lebih menarik.

“Karena aku perempuan, jadi robot kura-kura ini sengaja dicat warna pink sehingga terlihat lebih cantik. Tadinya warna ijo, dulu sudah pernah ikut lomba, kemudian kita ganti warna pink,” kata Rida Maulani, peserta tim robot dari Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Ide pembuatan robot kura-kura ini, kata Rida, berawal dari inspirainya melihat tempat tisu di rumahnya. Karena bentuk tisu tersebut sedikit melengkung mirip batok kura-kura. Kemudian Rida dan bersama kedua orang temannya, Marni Noviati dan Popi Khoirunnisa, merealisasikan idenya tersebut dengan membuat robot mirip kura-kura. Karena bentuk robotnya yang cukup unik ini, Rida pun banyak berharap bisa juara dalam kategori desain robot terbaik.

“Aku tidak mengharapkan juara di kompetisi ini, lebih untuk pengalaman ikut lomba saja. Aku lebih tertarik ke desain, karena (robot) ini agak unik,” kata mahasiswi jurusan teknik komputer ini yang mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 250.000 untuk membuat robot kura-kuranya.

Ketua panitia lomba, Indra Perdana, ditemui disela-sela perlombaan mengamini bahwa kompetisi kali ini selain memilih tiga juara juga akan memilih robot dengan desain terbaik. Masing-masing akan mendapatkan hadiah piagam dan uang pembinaan. Kendati hadiah yang diberikan tidak seberapa, namun kompetisi tersebut sebagai upaya untuk mendukung persiapan semua tim mengikuti kontes robot cerdas Indonesia tahun depan. “Targetnya meningkatkan daya saing mahasiswa untuk lomba robot sejenis sebagai langkah awal mengikuti kontes robot cerdas Indonesia tahun depan,” ujar mahasiswa jurusan teknik elektro UGM tahun 2008 ini.