Militer Israel dituduh melakukan kesalahan besar dalam merancang dan pengambilan keputusan saat mencegat dan menyerang armada kapal pembawa misi kemanusiaan ke Jalu Gaza pada 31 Mei lalu. Kesalahan itu ada di tingkat pimpinan militer, bukan di tangan pasukan di lapangan.

Angkatan Laut Israel juga ditengarai lalai mengantisipasi kemungkinan perlawanan sengit dari para penumpang kapal Mavi Marmara, salah satu dari armada kapal misi kemanusiaan ke Jalur Gaza. Kelalaian di tingkat pimpinan militer itu menyebabkan penanganan di lapangan sama sekali tidak sesuai harapan.

Demikian hasil laporan tim penyidik militer Israel yang dipimpin Jenderal Giora Eiland. Laporan diserahkan kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gabi Ashkenazi, Minggu (11/7/2010). Laporan itu mengkritik keras AL dan seksi operasi militer Israel.

Serangan komando Israel terhadap misi itu menewaskan sembilan orang dan mencederai puluhan orang. Serangan itu menuai kecaman keras dari masyarakat internasional, yang memaksa Pemerintah Israel pada awal Juli ini memperlonggar blokade atas Jalur Gaza.

Menurut laporan tersebut, aksi kekerasan di atas kapal Mavi Marmara mestinya bisa dihindari jika AL Israel menerjunkan pasukan dengan jumlah lebih besar di atas kapal Mavi Marmara.

Laporan itu juga menegaskan, koordinasi antara berbagai badan intelijen dan militer tidak memadai dalam merancang pencegatan armada kapal misi kemanusiaan itu. Sejumlah informasi intelijen juga tidak akurat.

Meski demikian, laporan Eiland itu tidak merekomendasikan gugatan di pengadilan terhadap pejabat militer yang terlibat perancangan dan pengambilan keputusan serangan.

Menuduh penumpang

Sebaliknya, laporan tim penyidik militer pimpinan Giora Eiland itu malah menuduh aktivis pro-Palestina yang berada di kapal Mavi Marmara sebagai pihak yang memulai melepaskan tembakan ke arah pasukan komando Israel.

Eiland mengungkapkan, telah ditemukan sedikitnya empat bukti bahwa penumpang kapal Mavi Marmara memulai tembakan, baik dengan menggunakan senjata hasil rampasan dari pasukan komando Israel atau mereka sudah memiliki senjata itu sebelumnya.

”Saya punya bukti, sedikitnya terdapat satu senjata di kapal Mavi Marmara sebelum pasukan komando Israel mencapai kapal tersebut. Bukti itu adalah tembakan pertama telah dilakukan salah seorang dari penumpang kapal ke arah pasukan komando yang turun dari helikopter melalui tali,” ungkap Eiland.

Radio Militer Israel menyebutkan bahwa proses penyidikan yang berlangsung selama lima pekan itu tergolong komprehensif dan transparan serta bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran.

Pihak Turki selama ini menolak keras tuduhan Israel bahwa penumpang kapal Mavi Marmara memulai tembakan. Menurut versi Turki, senjata yang berhasil dirampas dari sebagian anggota pasukan komando Israel justru langsung dibuang ke laut.

Selain tim penyidik militer, di Israel kini sedang bekerja dua tim penyidik sipil terhadap armada kapal kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang dibentuk Pemerintah Israel. Satu tim penyidik dipimpin mantan hakim Jacob Turkel. Tim penyidik pimpinan Turkel itu akan fokus pada sisi hukum dari peristiwa Flotilla Gaza itu. Menurut harian Israel, Haaretz, tim penyidik pimpinan Turkel akan merekrut dua penyidik asing sebagai anggota tim. Satu tim penyidik lagi dipimpin pengawas negara Micha Lindenstrauss.

Bersamaan dengan turunnya laporan tim penyidik militer itu, Pemerintah Israel kembali direpotkan dengan kapal kemanusiaan Libya yang sedang menuju Jalur Gaza. Kementerian Luar Negeri Israel telah mengimbau militer Israel tidak mencegat kapal Libya di perairan internasional sehingga tidak terjadi masalah di ranah hukum internasional, seperti Mavi Marmara.