Penyerang tim nasional Perancis Thierry Henry akhirnya memutuskan untuk buka suara perihal kisruh internal yang terjadi di tubuh “Les Blues”, selama berada di bawah asuhan pelatih kontroversial Raymond Domenech. Henry menyebut dirinya ‘terisolasi’ selama berada di Afrika Selatan.

Henry berujar, kendati dirinya adalah salah satu pemain senior di timnas, namun ia justru merasa kehadirannya di sana tidak diinginkan.

“Saya mungkin pernah jadi seorang ‘kakak’, tapi sekarang tidak lagi. Saya merasa ‘terisolasi’, tapi tidak penting siapa yang bersikap seperti itu kepada saya,” tutur Henry pada stasiun televisi Perancis Canal+.

“Mereka tidak bicara dengan saya seperti biasanya. Sebelumnya, mereka sering bicara dengan saya. Tapi ketika Anda tak lagi punya kredibilitas di tim, itu membuat segalanya jadi sulit. Saya merasa ‘dipinggirkan’, dan pada satu titik tertentu, harga diri Anda pasti akan tergerus,” sambungnya.

Lebih lanjut, pemain Barcelona itu membantah bahwa kasus Nicolas Anelka-lah yang jadi biang keladi kekacauan timnya. “Saya tak tahu apakah kasus Nicolas Anelka yang memicu semuanya. Meski ada beberapa ‘kegilaan’ yang terjadi,” cetus mantan kapten timnas Perancis ini.

“Tapi saya pikir Anda tak bisa bicara mengenai ‘klan’. Saya bisa bilang pada Anda, saya tak pernah melihat pertengkaran apapun, saya tak pernah melihat seseorang memberi tekanan siapapun,” tambahnya lagi.

Henry, yang mewakili timnas “Ayam Jantan”, pada rapat darurat dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, menegaskan bahwa reaksi pascahukuman yang dilimpahkan ke Anelka, dengan menolak berlatih di hari Minggu lalu mungkin sedikit keras, tapi ia menyebut para pemain tak punya pilihan lain.

“Keputusan dibuat secara bersama, sebelum bus datang menjemput. Saat itu, keputusan itu adalah keputusan bulat. Tak ada yang menekan siapapun,” ucap pemain berusia 32 tahun ini.

“Kami harus menunjukkan dukungan kami untuk Nico (Anelka), karena bukan itu yang dikatakan Nico. Kami tahu dia akan dikirim pulang esok hari, tanpa berdiskusi lebih dulu dengan kami. Mereka harusnya bisa bicara lebih dulu dengan Nico, menghukum dia dari seluruh pertandingan Piala Dunia, tapi biarkan dia tinggal bersama tim,” sesalnya.

“Tapi dengan mengirim Nico pulang seperti itu? Saya juga punya cerita dengan handsball, dan saya juga sendiri saat itu, jadi saya tahu rasanya seperti apa. Kami tak bisa meninggalkan team mate seperti itu. Bila melihat ke belakang, ketika Anda melihat konsekuensi yang terjadi, maka Anda bisa berkata itu semua salah,” tukas Henry.

http://bola.kompas.com