Pendahuluan.

Senyum rasul kepada umatnya memang tiada tara. Segala tingkah laku beliau, tindak tanduk beliau, membiaskan pesona yang dapat menembus hingga ribuan kilometer, ribuan tahun, sampai hari kiamat kelak. Bahkan, hingga kini akhlak mulianya masih dapat kita rasakan melalui al-Quran dan hadits – hadits yang bersumber dari para sahabat dekatnya. Bahkan, istri beliau, Siti Aisyah, menegaskan akhlak Nabi sebagai akhlak al-Quran.

Untuk itu, sudah selayaknya kita meneladani kepribadian beliau. Berikut ini akan kita paparkan 5 kiat praktis agar kita menjadi pribadi yang menawan. Insya Allah apabila kita mengamalkan dan berusaha sekut tenaga melatihnya, maka akan menjadi amal saleh yang membuat kita tertegun, heran, kaget, dan bercampur bahagia karena melihat efek perubahannya yang begitu besar terhadap sikap kita.

S yang pertama yaitu SENYUM. Setiap manusia di dunia ini punya bibir tapi tidak setiap orang pandai tersenyum, senyum itu sendiri memiliki dampak yang bermacam- macam ada yang karena senyum sinis ada juga senyum menggoda, yang membuat orang yang melihatnya terjerumus ke lembah maksiat. Itulah senyum yang disunggingkan oleh beberapa laki-laki dan perempuan nakal untuk menggoda dan merayu orang lain. Akan tetapi ada juga bentuk senyuman yang membuat hati kita tertegar melihatnya. Itu adalah senyum ketabahan. Seperti yang di praktekkan oleh Rasulullah SAW. Beliau selalu hadir dengan wajah penuh senyum, wajah yang cerah di hadapan siapa saja.

Keuntungan tersenyum.

Keuntungan tersenyum yang pertama :

a)      Dari segi penampilan, senyum bisa menambah daya tarik tersendiri, walaupun ia adalah seorang nenek yang sudah keriput di makan usia, ompong, namun kalau tersenyum pasti terihat manis sekali.

b)      Dari segi kesehatan, orang yang murah senyum akan jauh dari stres, jantungnya akan berdetak normal, peredaran darahnya akan mengalir dengan baik. Pendek kata, orang yang terbiasa tersenyum akan terhindar dari aneka penyakit ketegangan. Sebabnya ialah senyum mendorong hati menjadi ceria sehingga menguatkan dan menyehatkan tubuh serta membuat kita awet muda.

c)      Dari segi hubungan sosial, bagi orang yang murah senyum, pergaulan dan keakraban akan selalu hadir. Bahkan mampu menambah semangat dibandingkan orang yang dalam pergaulannya bermuram durja.

Untuk itu marilah kita latih diri kita untuk selalu tersenyum dengan tulus. Insya Allah kalau kita tersenyum dengan proposional baik saat berbicara dengan orang tua dan anak-anak maka akan membuat suasana terasa lebih indah. Selain membuat kita merasa bahagia, orang lain pun akan merasa tertarik dengan kemuliaan sikap kita. Oleh karena itu, hadapilah perjalanan hidup kita ini dengan senyuman yang tulus dari hati.

S yang kedua adalah SALAM.  Salam dalam islam mengandung makna yang dalam, selain merupakan doa yang tulus dari seorang muslim kepada muslim lainnya, salam oleh sebagian ulama diartikan dengan, “semoga engkau dalam penjagaan Allah”. Jadi, kita sebagai umat muslim hendaknya apabila bertemu atau bergaul utamakan salam terlebih dahulu, selain kita mendapatkan pahala juga akan terjamin keislamannya, kita insya Allah juga tidak akan di dzalimi atau mendzalimi orang lain. Akhirnya lewat salam dapat di bangun ukhuwah yang selain membangun kemuliaan Islam juga membangun kemuliaan umat. Ketika bertemu ucapkanlah salam, demikian pula ketika berpisah. Ucapkanlah salam ketika kita datang kepada orang yang hadir lebih dulu.yang muda mendahului salam kepada yang tua. Begitulah etika-etika salam yang perlu kita perhatikan.

Seperti yang patut kita contoh perilaku sahabat Nabi Muhammad SAW yang setiap pagi pergi ke pasar hanya untuk menebarkan salam. Tentu saja, salam tidak harus kita kepada yang kita kenal saja, karena kita tahu bahwa negara kita sendiri sebagian besar menganut agama Islam. Praktikanlah. Setelah senyum, ucapkanlah salam. Mulai dari diri sendiri. Lalu kembangkan dan budayakan di rumah kita.

S yang ketiga adalah SAPA. Dengan menyapa secara hangat, kebekuan akan cair, kita akan saling memaklumi, menjadi akrab, bahkan akan timbul perasaan tenang, nyaman dan aman. Kita pun akan merasakan, betapa perjalanan yang jauh akan terasa lebih nyaman karena duduk kita telah berbuah keakraban bersama orang yang ada di samping kita. Begitu pula untuk pertolongan, makanan, pinjaman buku, sampai hal-hal yang tidak kita duga. Semua inilah yang terkadang tidak kita miliki, namun baru ada pada teman kita yang telah tersentuh hatinya.

Sebaliknya, betapa ruginya bila kita tidak membiasakan menyapa. Selain suasana menjadi tidak akrab, juga akan muncul kekakuan dan ketegangan. Di samping itu, buruk sangka serta prasangka, kesombongan, dan keangkuhan pun akan mengiringi. Sampai-sampai saat kita membutuhkan sesuatu, kita akhirnya menjadi sungkan.

Rahasia keberanian menyapa.

Memang, rahasianya terletak pada tekad untuk menghancurkan kebekuan suasana. Kuncinya ada pada keberanian untuk menyapa. Bila dibarengi dengan raut muka yang jernih, salam, lalu disapa dengan perkataan yang lembut, halus, ramah lagi sopan, insya allah, suasana kakuakan terpecahkan dan akhirnya dapat kita nikmati.

Begitu pula saat kita naik kendaraan baik itu taksi, pesawat, kereta api, bis, tidak ada salahnya bila kita mendahului untuk menyapa. Bertanyalah dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan yang kita ajak bicara. Dengan kata lain, barangsiapa bagi orang yang gemar menyapa dengan sapaan yang tulus, penuh penghormatan, hangat, insya Allah kita akan memperbanyak kawan dan pada akhirnya kita akan mendapat pertolongan dari Allah SWT.

S yang keempat yaitu SOPAN. pertama-tama, apa yang terasa apabila kita berjumpa dengan orang yang sopan sikapnya, baik itu tutur katanya, gerak-geriknya selalu saja orang yang sopan itu mencuri hati kita. Kita pun segan dibuatnya, setidaknya kita menjadi hormat terhadap orang yang berbuat sopan.

Di saat yang sama, terkadang kita merasa mual, dongkol, melihat orang yang tidak tahu kesopanan. Walau bagaimanapun, tidak pernah terangkat kemuliaan seseorang dengan sikap yang tidak sopan. Semakin tinggi nilai sikap kesopanan, makin tinggi derajatnya. Kesopanannya yang muncul dari kemuliaan akhlak merupakan tanda-tanda kedalaman pemahaman agama seseorang.

Untuk itu, mari kita kendalikan sikap kita saat menyuruh, melarang, meminta sesuatu, atau menolak apa pun. Saat kita berdiri, jaga sesopan-sopannya agar kita tidak sampai merendahkan siapa pun. Ketika duduk, saat kita menyimpan kaki, hati-hatilah dengan tumpang kaki atau melonjorkannya, karena Nabi Muhammad SAW. Sendiri tidak pernah sedikitpun melonjorkan kaki walau yang ada dihadapannya adalah anak kecil sekalipun. kita harus berhati-hati saat merasa enggan mendengarkan perkataan orang lain. Atau kita sempat-sempatnya berbisik padahal ada orang ketiga.Termasuk pula di sini kaum dhuafa, supir, pedagang kecil, tukang becak, serta siapa pun yang status ekonomi duniawinya lebih rendah daripada kita, tetaplah untuk berbicara sopan pada mereka. Kata-kata yang dipilih sehalus mungkin, ditambah sikap kita yang penuh penghormatan. Semua ini jelas akan memberikan nilai yang tinggi pada kita. Selain itu, kita juga akan membahagiakan orang lain ketika mereka dapat merasakan nikmatnya perilaku sopan kita. Sekarang, mari kita coba. Pilih sikap terbaik kita, yaitu mampu bertindak dengan penuh kesopanan.

S yang kelima adalah SANTUN. Penyantun adalah orang yang bisa memaafkan. Ia bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Dengan kata lain, orang yang penyantun adalah orang yang mampu menekan ego dirinya untuk mengalah demi kemaslahatan bersama.

Dalam hal ini Rasulullah SAW. telah memberikan contoh mulia, bagaimana beliau berkorban. Sifatnya lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan dirinya sendiri. Sikap santun ini harus kita mulai dari hal-hal yang praktis. Saat antri makan pun harus dijaga jangan sampai berebut. Sebab, insya Allah takkan mati kelaparan dengan mendahulukan orang lain.

Pengorbanan pada dasarnya bukanlah kerugian. Pengorbanan adalah investasi bekal menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Percayalah, mereka yang dimuliakan melelui kepribadiannya yang simpatik dan menawan adalah orang yang berusaha mengutamakan orang lain sepanjang itu semua mengandung kemaslahatan. Begitulah, kini kita sudah mengetahui bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh bentuk fisik kita. Namun  itu semua ditentukan oleh nilai kepribadian kita.